Warung SS – The Cronicle of Warung Pedas

Makan tanpa ditemani sambal terasa hambar, mungkin seperti itulah kiasan yang cocok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terlebih lagi kera ngalam. Disamping hawa kota yang cukup menggigit di malam hari, dorongan  hasrat untuk makanpun tak tertahankan, begitu pula makan tanpa sambal rasanya benar-benar bikin “Mati Gaya!” istilah gaulnya.

Nah, menindaklanjuti “The Cronicles of Warung Pedas” di malang seperti yang pernah di bahas pada artikel review dari Pak RW dan lainnya , kali ini saya mencoba menyajikan informasi lainnya yang berhubungan dengan Rumah Makan yang berkutat pada cobek dan lombok sebagai sajian utamanya. Sesuai dengan judul review artikel diatas, saya ingin berbagi ulasan tentang Warung SS (Spesial Sambal) kepada pembaca yang mungkin ingin mencoba nuansa lain dari “selera pedas” khas jogja yang memiliki banyak cabang yang tersebar di beberapa kota, termasuk di kota malang ini.

Warung SS ini terletak di seputaran sengkaling atau sangat berdekatan dengan Taman Rekreasi Sengkaling. Jika anda dari arah dinoyo atau Kampus III Univ. Muhammadyah Malang dan pergi ke arah barat atau menuju arah kota Batu, maka letak warung ini ada di sebelah kanan jalan, jika sebaliknya dari arah Batu menuju timur atau kota malang, letaknya di kiri jalan. Namun yang perlu di perhatikan adalah, saat anda mencari warung ini sebaiknya sebelum sengkaling atau jika sebaliknya, setelah sengkaling kurang lebih jarak 10 meter, anda harus perlahan-lahan untuk mendapatkan warung ini, karena kurang atraktifnya Neon Sign yang menandakan identitas warung ini menyebabkan sering kali saya terlewatkan beberapa meter, tentunya buat mereka yang baru pertama kali berkunjung ke tempat ini akan sedikit kebingungan karena dianggap warung tersebut tidak ada. Apalagi Billboard Iklan yang besar persis di atas warung ini begitu mencolok sehingga dari arah barat ke timur sering tidak terlihat. Nah mungkin yang paling pas di jadikan patokan adalah Billboard besar di sekitar area sengkaling ini.

Jika anda pertama kali mampir ke warung ini, pastinya sedikit bertanya-tanya, “Benarkan ini warung yang sering di ceritakan orang (termasuk saya. Tongue out) ?” karena pertama kali anda berkunjung ke warung ini, akan dihadapkan pada suasana yang berbeda seperti layaknya warung-warung kebanyakan, namun begitu anda duduk di warung tersebut, baru anda yakin bahwa ini memang warung yang ramai dibicarakan orang. Begitu pula dengan saya, saya sempat berfikir bahwa ini bukan warung yang saya bayangkan, karena lebih banyak mahasiswa/wi yang makan disitu, pertama kali membuat saya sedikit agak kagok apalagi membawa rombongan  keluarga besar , hehehe.. namun sesaat setelah menguasai keadaan baru saya merasa enjoy duduk dan memesan makanan yang tersedia dimenu tersebut.

Yang pertama kali menarik perhatian saya adalah, ada dokumentasi menu yang diletakkan dalam pigura di dinding yang menunjukkan karakteristik dari nama-nama sambal ala warung ss ini, mulai dari tingkat Kepedasannya, hingga Tingkat Favoritnya berdasar banyaknya peminat akan suatu menu sambal yang ada. Tidak kurang dari 19 macam sambal yang ditampilkan dimenu itu, dan saya tentunya memilih yang cukup favorit namun memiliki tingkat kepedasan tidak kurang dari 4 bintang, saat itu menu sambal yang saya pilih adalah “Sambal Gombal Gambul” karena penasaran, saya nekat memilih sambal yang punya nama aneh ini. Memang hampir sebagian besar nama-nama yang ada pada menu sambal ini beraneka ragam dan disesuaikan dengan karakteristiknya, walaupun demikian, anda tidak perlu khawatir kebingungan, jenis apakah sambal ini dan sambal itu…karena masing-masing sambal punya deskripsi ramuannya. Well, walhasil semua pesanan yang saya inginkan dan keluarga sudah kelar di tulis dan diberikan kepada pelayan warung tersebut. Lebih dari 7 menu yang kami pesan, rata-rata disertai sambal, kecuali menu anak-anak, dan tak lupa nasi untuk 4 porsi.

Hal yang cukup mengejutkan saya adalah, ketika saya mengembalikan daftar menu ke pelayan, tidak lebih dari 5 menit, sajian minuman yang kami pesan diantarkan, dan tidak lama kemudian dalam kurun waktu kurang dari 12menit, sajian masakan dan sambal pesanan kami telah sampai di meja makan. Luar biasa menurut saya, yang selama perjalanan kuliner saya, satu-satunya sajian masakan tercepat yang pernah saya rasakan adalah, warung nasi padang ( fast food londo tidak termasuk karena bukan makanan inlander lokal) dimana semua menu sudah tersaji dan tinggal diantarkan ke meja. Namun warung yang satu ini berbeda, dimana menu yang disajikan benar-benar baru dimasak dan bukan makanan yang sudah tersaji sebelumnya kemudian dipanaskan kembali. Dan yang cukup membuat kagum saya adalah, semua masakan benar-benar “MASAK” alias tidak setengah matang Tongue out

Tak lama berselang, baru beberapa kecapan menu yang saya pesan, di sekitar kepala dan rambut mulai menunjukkan gejala-gejala aneh dan sedikit gatal-gatal ( bukan kudisan yak….Wink) yang semuanya disebabkan oleh efek pedas dari sambal Gombal Gambul yang saya pesan. Karena kaget akan pedasnya, saya langsung menyambar teh manis panas yang ada di depan mata saya, tak pelak justru efek berantainya makin menjadi-jadi, walhasil bisa ditebak, kepala dan wajah saya sudah basah dengan keringat, belum lagi lalapan daun singkong yang jarang saya temui di warung-warung lainnya, semakin membuat saya tak betah berlama-lama untuk membiarkan menu makanan di meja tersisakan (maklum badan tambun isinya kudu sesuai.. Embarassed). Sempat 2 kali saya tambah untuk lauk, lalapan dan sambalnya (doyan apa doyan…) apalagi lauk kedua setelah ayam goreng yang empuk adalah telor dadar Gombal Gambul, pasangan serasi dari sambalnya cukup menggugah selera lidah dan perut saya. Tak pelak dalam tempo yang tak begitu lama, menu-menu tersebut habis berikut 3 piring nasi pulen yang sempat saya lahap untuk mengimbangi pedasnya (ngimbangin apa rakus?? ). Karena tempat makan yang saya pilih adalah lesehan, anda bisa tebak bagaimana salah tingkahnya saya ketika duduk dalam keadaan kenyang sembari seluruh badan basah kuyup dengan keringat. Jujur saja baru pertama kali ini saya merasakan pedasnya sambel, walaupun sudah sering kali istri saya membuatkan sambel dengan 20 lombok dalam satu cobek besar sering saya habiskan sendiri, namun nyatanya saya gelagepan dengan menu yang ada di warung ini, dan keadaan ini cukup membuat saya malu karena diperhatikan mahasiswi-mahasiswi yang ehemmm…(tebak sendiri deh..dandanannya) melihat kondisi saya saat itu. Langkah cepat saya ambil untuk menghindari suasana tersebut dan langsung menuju ke luar ruangan dengan alasan mencari angin (padahal mau buang angin berlebih tuh…Foot in mouth).

Sambil menghisap satu batang rokok sebagai penutup di luar ruangan, akhirnya 1 jam lebih semua anggota keluarga kelar dengan acara badok-badokannya dan langsung menyelesaikan pembayaran di meja kasir. Lagi-lagi saya dikejutkan dengan tarif yang dikenakan untuk menu masakan yang telah mengisi pundi-pundi perut kami. Anda mungkin sulit membayangkan, dengan kondisi warung seperti itu, porsi menu masakan seperti itu, dan sajian cepatnya yang tak terlupakan, semua itu hanya di tebus dengan ongkos tidak lebih dari 45000 rupiah, padahal saya sekeluarga ( 3 dewasa dan 4 anak kecil) dengan porsi jumbonya masih menyisakan seperempat sisa nasi didalam bakul, itupun bagi kami sudah berlebihan apalagi saya yang sudah melahap 3 piring nasi. Jadi, kenapa akhirnya saya memutuskan untuk membuat review ini agar saya bisa berbagi kenikmatan selera pedas kepada para penggemar cabe dan lombok. Saat ini saya sudah 4 kali berkunjung ke warung itu dengan menu yang berbeda-beda dan semuanya memang nikmat… Masih gak percaya? tanya saja Pak RW yang minta ampunan grasi karena tidak tahan dengan gigitan sambalnya.

www.malangpedia.com/kuliner

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: